Rabu, 29 Oktober 2008

PANTUN BUDI

Pantun bisa dikonsepsikan sebagai satu pengucapan kemelayuan yang terkandung di dalamnya seluruh kebijaksanaan, jiwa, seni, budi bahasa dan pandangan Melayu.

Pengertian budi kepada orang Melayu meliputi suatu ruang yang amat luas bagi menyatakan unsur-unsur kebaikan dan kehalusan mengikut nilai-nilai yang dipupuknya. Nilai budi lahir dari akal pemikiran, hati dan perasaan yang menginginkan sesuatu kebaikan dari seseorang

Masyarakat Melayu menganggap orang yang banyak berbudi akan dikenang sampai mati. Budi tidak hanya tertumpu pada budi pekerti saja , namun juga mencakup budi bicara atau bahasa dan hati budi atau akal budi.

Dalam pantun budi terkandung nasihat dan pengajaran kepada manusia agar hidup berbudi dan mengamalkan nilai-nilai murni dalam hidup

Hingga kini, pantun budi masih digunakan untuk mengapresiasi mereka yang banyak berbudi kepada masyarakat.

berikut adalah contoh dari beberapa pantun budi yang pernah ada :

Buah nanas dibawa belayar,
Dimakan sebiji di Tanjung Jati;
Hutang emas boleh dibayar,
Hutang budi dibawa mati

Yang kurik hanya kundi,
Yang merah hanya saga;
Yang baik itu budi,
Yang indah hanya bahasa

Tegak rumah kerana sendi,
Runtuh sendi rumah binasa;
Tegak bangsa kerana budi,
Runtuh budi hilanglah bangsa

Cahaya redup menyegar pagi,
Ayam berkokok mengikut tuah;
Jikalau hidup tidak berbudi,
Umpama pokok tidak berbuah

Bunga Cina di atas batu,
Jatuh daunnya ke dalam ruang;
Adat dunia memang begitu,
Sebab emas budi terbuang

Buah cempedak di hutan duri,
Jatuh sebiji dimakan ulat;
Jikalau tidak bahasa dan budi,
Apa guna kaya berdaulat

sumber : dari email teman

Kejayaan dan Keistimewaan Melayu

DAHULU Melayu dikenal sebagai sebuah peradaban yang agung dan bangsa yang hebat. Pengaruh kekuasaannya yang luas dan hubungannya dengan berbagai kerajaan di Nusantara, seperti Singasari, Sriwijaya dan Majapahit sampai abad ke-7 telah dicatat oleh I-tsing, sang pengembara dari Cina.

Menurut sejumlah pakar sejarah, istilah Melayu sudah muncul sejak lama. Istilah ini digunakan secara luas untuk menggambarkan keagungan dan kegemilangan sebuah kerajaan-bangsa. Dalam kitab Sejarah Melayu, Sulalatus-Salatin, istilah Melayu adalah nama yang diberikan pada keturunan Sultan Malaka, yang berdasarkan mitologi, merupakan keturunan Iskandar Zulkarnain.

Menurut catatan sejarah, Raja Melayu pertama turun dari Bukit Siguntang, Palembang yang kemudian berkembang hingga terbentuk Kerajaan Malaka oleh Parameswara. Dengan berkembangnya Islam di kerajaan Malaka maka makin kokohlah kemuliaan serta kejayaan Melayu. Peristiwa peng-Islam-an Raja Malaka yang diawali dengan mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW secara tersirat menunjukkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tinggi martabatnya. Bangsa yang terangkat kemulian lantaran dimahkotai oleh agama Islam. Kesultanan Melayu Malaka mencapai puncak kejayaannya tatkala diperintah Sultan Muzafar Shah dan Sultan Alaudin Riayat Shah yang arif dan bijak. Di bawah pemerintahan mereka, Kesultanan Melayu memperluas kekuasaannya, termasuk menjalin perdagangan antar bangsa hingga Kepulauan Ryukyu, Jepang.

Laksamana Hang Tuah dan lima sahabatnya, serta Bendahara Tun Perak, merupakan tokoh-tokoh Melayu yang terkenal pada saat itu. Dengan kekuatan perdagangan,pengaruh politik, dan Islam, Kerajaan Cina tertarik menjalin hubungan diplomasi dan perdagangan dengan kesultanan Melayu. Hubungan itu makin dikukuhkan dengan perkawinan puteri Cina, Hang Li Po, dengan Sultan Muzafar Shah. Dasar inilah yang menjadi titik permulaan Kesultanan Melayu menjalin hubungan dengan Cina.

Tak sampai di situ saja, peradaban Melayu semakin gemilang manakala bahasa Melayu menjadi lingua-franca yang dituturkan sebagai bahasa perdagangan dunia. Para pedagang Cina dan India, misalnya, menjadikan bahasa Melayu menjadi medium penuturan yang digunakan tidak saja di Malaka tapi hingga seluruh Nusantara. Sampai saat ini bahasa Melayu sudah menjadi bahasa keempat dunia yang dituturkan lebih kurang 250 juta orang.

Inilah cerminan dari sebuah bangsa yang kuat dan berpengaruh. Di samping itu, bahasa Melayu yang dinamis adalah kelebihan bahasa ini dalam menyerap berbagai pengaruh dan penerapan frase ilmu pengetahuan dari sejak zaman Hindu-Buddha sampai setelah kedatangan Islam, dan semua ini menegaskan kemauan orang Melayu untuk berubah menjadi bangsa yang lebih baik kedudukannya. Sejarah lalu juga telah menunjukkan bagaimana kehebatan bangsa Melayu bukan hanya terletak pada kejayaan material semata-mata, tetapi juga pada sendi budaya dan adat yang bernafaskan Islam. Inilah yang memikat kekuatan kekuasaan asing untuk memperebutkan bumi bertuah.

Jika sampai pada pembahasan sastra Melayu, sampailah kita pada Riau. Hingga saat ini sastra Melayu-Riau telah memoles warnanya yang amat mencolok dalam khazanah sastra Indonesia. Dalam sebuah wawancara di Pekanbaru pada tahun 1999, manakala sejumlah daerah sedang menuntut kemerdekaan dan mempersoalkan otonomi, seorang penyair terkenal Sutardji Colzum Bachri menyatakan bahwa hal yang sangat konkret bagi Riau adalah ‘negara kata-kata’. Menurutnya eksistensi orang Riau adalah katakata. Kosmologi mereka adalah kata, demikian tegas Sutardji. Apa maksudnya? Sutardji mengungkapkan sebuah pernyataan ringkas, “Bila tradisi modern sastra Indonesia bermula dari tahun 1920-an, yaitu pada masanya pra pujangga Baru dan Pujangga Baru, maka tradisi Riau satu abad lebih dahulu tumbuh dan gemilang sedemikian rupa.

Kemampuan Raja Ali Haji menukilkan sejarah sastra yang cemerlang dan sangat fundamental menjadikannya sebagai puncak sastra. Beranjak dari kenyataan itu, sastra Riau bermula dari puncak, sedangkan sastra Indonesia bermula dari percobaan-percobaan dan eksperimentasi.” Raja Ali Haji, tokoh sastrawan dan intelektual Riau memang telah menorehkan bukti sejarah konkrit tentang kontribusi masyarakat Melayu- Riau bukan saja sastra Indonesia tapi juga dunia intelektual. Tengok saja karya-karyanya, mulai dari 'Hikayat Abdul Muluk' (1846), 'Gurindam Dua Belas' (1847), 'Muqaddimah fi Intizam' (1857), 'Kitab Pengetahuan Bahasa' (1869) dan 'Silsilah Melayu dan Bugis' (1865), sampai karyanya yang monumental 'Tuhfat an-Nafis' (1866).

Semua ini menggambarkan tentang Melayu yang begitu intelek yang didukung oleh penyebaran Islam dan dukung pemerintah terhadap pengembangan budaya dan ilmu pengetahuan. Sungguh tak heran jika istana kemudian dijadikan sebagai pusat pengajian ilmu dan tempat para ulama berkumpul. Banyak masjid dan sekolah pondok serta madrasah didirikan dengan maksud untuk membina keunggulan bangsa Melayu, dan semua rakyat berpeluang menerima ilmu yang dapat memajukan mereka.

Kemunculan kaum intelektual, cendekiawan, serta ulama yang termasyhur dengan berbagai karyanya di bidang pengetahuan, agama, dan filsafat menjadi ukuran bahwa bangsa ini sebenarnya adalah bangsa yang mementingkan ilmu pengetahuan. Tradisi Melayu ini diwarisi juga oleh Aceh dan Johor yang mengembangkan ilmu dan pengetahuan.Aceh kemudian dijuluki sebagai Serambi Mekah karena menjadi pusat pengkajian agama seperti di Malaka. Pusat pengkajian agama ini kemudian melahirkan ulama-ulama seperti Abdul Rauf Singkel dan Samsudin Al-Sumatrani. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda mereka melanjutkan institusi Baiturahman sehingga banyak melahirkan pemikir Melayu.

Keistimewaan Melayu juga didukung oleh warisan budaya dan adatnya yang kaya, mulai dari syair, pantun, sepak raga, congkak hingga tarian-tarian yang memiliki cita rasa estetis tinggi. Pewarisan ini juga menjadi semacam pesan pada generasi kini bahwa di dalam kesenian itu juga sebenarnya ada unsur nasehat yang menjadi pedoman untuk menjadi bangsa yang hebat. Begitu juga dengan perilaku orang Melayu, semuanya penuh dengan simbol ketinggian pekerti, melalui budi bahasa dan sopan santunnya. Melayu dikenal sebagai bangsa berbudi yang suka menabur budi kepada orang lain. Jiwa gotong-royong dan rasa kekeluargaan apalagi tatkala melihat tetangga dan saudara seagama, mereka bagaikan satu keluarga. Begitu pula dengan sifat hormat-menghormati dan kasih sayang yang diungkapkan dalam pantun, syair dan madah gurindam warisan nenek moyang yang selaras dengan tuntunan Islam itu, bagai kata pepatah, “Yang tua dihormati dan yang muda dikasihi”. Nilai-nilai inilah yang meletakkan Melayu sebagai bangsa besar dimana kebesaran ini telah membedakannya dengan peradaban lain di dunia. Oleh sebab itulah kita perlu membangun setelah jatuh, karena kita percaya untuk menjadi bangsa yang unggul tidak pernah ada titik akhirnya…

sumber : http://melayuiin.blogspot.com/

SENJATA TRADISIONAL MELAYU


Senjata tradisional amat berkait rapat dengan sejarah Melayu yang diwarisi oleh orang Melayu sejak zaman Kesultanan Melayu Melaka lagi. Persejarahan senjata di Malaysia amat rapat dengan unsur-unsur seni mempertahankan diri seperti silat. Keterampilan rekacipta Pandai Besi maka kepelbagaian alat persenjataan telah terhasil, antara yang amat digemari sehingga kini seperti keris, parang, kelewang, beladau, tombak dan banyak lagi.

Peranan senjata amatlah penting dalam naluri hidup manusia, selain dari digunakan sebagai alat berperang atau mempertahankan diri serta hiasan ianya juga dikaitkan dengan unsur-unsur alam ghaib. Sesetengah mereka mempercayai sesuatu senjata itu mempunyai kuasa dalaman yang dapat membantu mempertingkatkan ilmu kebatinan kepada si pemiliknya.

Kelok-kelok yang dibentuk pada senjata melambangkan nilai-nilai estetika yang tersendiri dalam menggambarkan daya imaginasi kemelayuan sejak zaman-berzaman dengan teliti dan kreatif. Dengan pelbagai bentuk senjata tradisional yang kebanyakkannya berasal-usul dari luar yang diwarisi oleh nenek moyang mereka juga melambangkan ketinggian daya pemikiran dalam mengungkapkan segala makna yang tersurat dan tersirat.

Pada kebanyakan senjata seperti keris, lawi ayam, tumbuk lada, kelewang serta beberapa rumpunan yang serupa dengannya akan dihiasi dengan hulu yang diukir indah serta diberikan nama-nama tertentu seperti Jawa Demam, Kepala Nuri, Anak Ayam Teleng dan lain-lain. Tidak ketinggalan juga dengan sarung atau rangka yang kebiasaannya diperbuat dari kayu yang baik seperti teras nangka, tempinis, kayu kemuning, raja kayu dan sebagainya.

sumber : http://malaysiana.pnm.my/

Senin, 29 September 2008

Menduniakan Melayu dari Yogya

dari harian KOMPAS, 8 Agustus 2008

Kalau jatuh kota Melaka
Papan di Jawa kami tegakkan


Bidal yang berisi semangat untuk terus memperjuangkan keberadaan puak Melayu itu terus terngiang begitu kaki memasuki halaman rumah di Jalan Gambiran No 85 A, Yogyakarta. Muncul-melesap, berselang-seling dengan pekik Hang Tuah yang melintas di benak: Tak Melayu hilang di Bumi!

Di depan, Dick van der Meij berjalan gontai memasuki beranda rumah berarsitektur melayu modern tersebut. Ahli epigrafi dari Belanda yang mengkhususkan diri pada kajian tentang Melayu-Islam itu sempat terpana, kagum, melihat ragam hias ”itik pulang petang” terukir indah di teralis jendela.

Melewati pintu yang ”daun”- nya bergagang replika keris melayu, Dick disambut sang pemilik rumah, Mahyudin Al Mudra (50). Di sanalah, di rumah berarsitektur melayu—yang sejak dua tahun terakhir difungsikan sebagai kantor redaksi MelayuOnline.com—itu sebuah gagasan untuk menggelorakan semangat kemelayuan diwujudkan melalui ”gerakan” di dunia maya.

”MelayuOnline.com didedikasikan sepenuhnya bagi kegemilangan tamadun Melayu. Beruntung saya ditopang oleh teman-teman muda yang berhasil saya provokasi untuk mewakafkan waktunya demi perjuangan mengekalkan khazanah budaya Melayu,” kata Mahyudin, pendiri sekaligus pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM).

Di bawah naungan BKPBM, situs atau laman yang tampil dengan motto ”Melestarikan Tradisi dengan Cara yang Tidak Tradisional” ini dimaksudkan sebagai upaya merajut peradaban Melayu yang sudah mulai kehilangan marwah kemelayuannya. Melayu yang humanis, pluralis, dan egaliter, misalnya, dirasa perlu diaktualkan di tengah gemerlap peradaban materialistis saat ini.

Akan tetapi, MelayuOnline.com tidak berdiri pada tataran praksis. Taruhlah seperti ikut menggelar festival dan sejenisnya. Kehadiran MelayuOnline.com lebih diorientasikan pada apa yang disebut Mahyudin sebagai proses akademisasi Melayu. Artinya, Melayu dijadikan sebuah obyek kajian yang tidak pernah final.
”Dan memang, setelah kami gali dari berbagai sumber, tradisi besar Melayu dengan segala pernak-perniknya itu bagai sumur tanpa dasar. Selalu ada hal baru yang sebelumnya tidak kami ketahui tentang Melayu,” kata Mahyudin dalam kesempatan berbincang dengan Kompas di Gambiran 85 A, Yogyakarta. (Baca juga: Mahyudin ”Gila” karena Keris Melayu, hal 16).

Terbesar dan terlengkap
Sejak diluncurkan di Yogyakarta pada 1 Muharam 1428 Hijriah, bertepatan dengan 20 Januari 2007, laman tentang khazanah Melayu yang beralamat di http://www.melayuonline.com itu sudah disimak 4,5 juta (data hingga 7 Agustus 2008) pengunjung dari 104 negara. Mereka itu di antaranya datang dari sebuah negeri kecil di Afrika yang jarang terdengar di kancah pergaulan antarbangsa: Republic of Seychelles.

”Dari e-mail yang dia kirimkan kemudian, pengunjung MelayuOnline.com dari Republic of Seychelles itu ternyata orang Melayu juga. Dia ’terdampar’ ke MelayuOnline.com setelah berselancar di jagat maya mau mencari resep masakan Melayu,” ujar Yuhastina Sinaro dari Humas MelayuOnline.com.

Inilah pangkalan data tentang Melayu paling besar dan terlengkap di dunia. Terdiri atas 24 menu utama, mulai dari berita dan artikel yang terkait dunia Melayu hingga sejarah dan budaya serta hal-hal lain yang berkelindan dengan Melayu dan kemelayuan. Termasuk juga aspek kuliner, wisata budaya, serta perpustakaan berupa data koleksi BKPBM dan informasi buku-buku tentang Melayu koleksi perpustakaan-perpustakaan terkemuka di dunia.

Terhampar pada laman berbahasa Indonesia, Inggris, dan Perancis hingga lebih dari 75.000 halaman (setiap hari jumlah ini terus bertambah), pangkalan data disusun ke dalam struktur yang sistematis, integratif, dan komprehensif.
Menurut Mahyudin, penyusunan struktur yang demikian dimaksudkan untuk memudahkan orang yang ingin mengetahui dan memahami budaya Melayu, baik secara ringkas-sepintas maupun serius-mendalam. Meski hak patennya sudah didaftarkan, siapa pun boleh menggunakan pangkalan data ini untuk berbagai keperluan, termasuk untuk penulisan skripsi, tesis, maupun disertasi.
”Tentu saja harus mencantumkan MelayuOnline.com sebagai sumber yang dikutip,” ujarnya.

Guna memenuhi cita-cita besar menjadikan MelayuOnline.com sebagai pangkalan data acuan tentang Melayu dan kemelayuan, saat ini ada 24 tenaga profesional yang mendukung beroperasinya laman ini. Sebagian besar bergelar master (S-2), terutama dari bidang sosiologi dan antropologi budaya.

”Terus terang, saya terharu mereka mau mewakafkan waktu dan ilmu untuk MelayuOnline.com. Padahal, beberapa di antara mereka punya pengalaman (baca: sekolah) di luar negeri dan bisa memilih bekerja sebagai dosen, misalnya. Tapi mereka mau ke sini dengan gaji yang sangat minimal. Sungguh, saya terhibur dan termotivasi oleh semangat anak-anak muda ini,” kata Mahyudin.
Pendekatan kultur

Melayu sebagai sebuah entitas budaya dalam arti luas memiliki sejarah panjang. Selama ini Melayu cenderung dimaknai secara sempit dan kerap dipahami melalui perspektif tertentu. Tidak heran bila pengertian tentang Melayu bersifat parsial, tidak menyeluruh, bahkan memunculkan varian istilah yang memecah-belah orang Melayu sebagai entitas budaya yang multikultur.

Kawasan Nusantara sebagai basis orang-orang Melayu yang dulu setidaknya mencakup wilayah Indonesia, Malaysia (tentu saja termasuk Singapura), Brunei Darussalam, Filipina—juga Madagaskar—tercerai-berai, terutama sejak kehadiran pemerintahan kolonial. Istilah Melayu-Malaysia, Melayu-Indonesia, Melayu-Singapura, atau Melayu-Brunei muncul sebagai sekat penanda keterbelahan itu.
Di Indonesia sendiri dikenal berbagai macam puak yang sama-sama bercirikan kemelayuan, tetapi dalam sebutan berbeda, macam Melayu-Riau, Melayu-Deli, Melayu-Palembang, atau Melayu-Banjar. Jawa, Sunda, Madura ataupun Bali—sekadar menyebut beberapa wilayah—yang sejatinya juga adalah Melayu justru dari hari ke hari kian ”terasing” warna kemelayuannya.

Label-label baru dilekatkan. Melayu pun direduksi menjadi sekadar etnisitas: ras dan suku bangsa. Bahkan, belakangan, juga ada yang menambahkan label keislaman sebagai salah satu aspek kemelayuan.
”Padahal, jika merunut ke belakang, taruhlah sejak era proto-Melayu yang hadir jauh sebelum fajar sejarah muncul di Nusantara, pandangan semacam ini lemah argumentasinya,” ujar Mahyudin.
Apalagi, tambahnya, secara ontologis kemelayuan dan keislaman merupakan dua dimensi yang berbeda. Etnik Melayu merupakan kumpulan individu yang hidup di suatu tempat dan membentuk struktur sosial. Adapun Islam adalah agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Melayu untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Jika yang pertama menciptakan hubungan horizontal, yang kedua bersifat vertikal.
Berangkat dari kesadaran ini, melalui paradigma inklusif, MelayuOnline.com ingin menempatkan Melayu secara lebih luas dan melihatnya dari berbagai dimensi. Istilah Melayu pun lebih dimaknai sebagai sebuah kultur. Bukan Melayu sebagai suku, etnis, atau entitas budaya dalam arti sempit lainnya.

Bagi Mahyudin, Melayu tidak hadir pertama-tama karena ikatan sempit berdasarkan aspek genealogis, tetapi lebih dilatari oleh suatu ikatan kultural.
”Dengan demikian, kata ’Melayu’ yang dipahami oleh MelayuOnline.com merujuk kepada setiap masyarakat penutur bahasa Melayu dan mengamalkan adat resam budaya Melayu,” kata Mahyudin. Nah!

Sirih junjung sirih pinang
Sirih kuning diberi nama
Adat dijunjung pusaka dikenang
Hidup berbudi mufakat bersama

FALSAFAH HIDUP SUKU BANGSA MELAYU

Suku bangsa melayu itu dalam falsafah hidupnya dapat disimpulkan berlandaskan pada 5 dasar, yaitu :

1. Melayu itu Islam,
yang sifatnya universal dan demokratis bermusyawarah.

2. Melayu itu berbudaya,
yang sifatnya nasional dalam bahsa, sastra, tari, pakaian, tersusun dalam tingkah laku, dan lain-lain.

3. Melayu itu beradat,
yang sifatnya regional (kedaerahan)dalam bhineka tunggal ika, dengan tepung tawar, balai pulut kuning dan lain-lain yang mnegikat tua dan muda.

4. Melayu itu berturai,
yaitu tersusun dalam masyarakat yang rukun tertib mengutamakan ketenteraman dan kerukunan, hidup berdampingan dengan harga menghargai timbal balik, bebas tapi terikat dalam masyarakat.

5. Melayu itu berilmu,
artinya pribadi yang diarahkan kepada ilmu pengetahuan dan ilmu kebathinan (agama dan mistik), agar bermarwah dan disegani orang, untuk kebaikan umum.

Rukun tertib yang dimaksudkan puak melayu adalah keadilan dan kebenaran yang harus dapat dirasa dan dilihat.
Ia mengetahui, bahwa :

ISLAM tidak bertentangan dengan masyarakat yang berperikemanusiaan dan yang ber-Tuhan.

BUDAYA tidak bertentangan dengan masyarakat yang ingin beradab dan mengingkat lahiriah dan bathiniah

ADAT tak bertentangan dengan peradaban masyarakat yang ada rasa kekeluargaan, bukan individualistis.

BERTURAI tak bertentangan dengan masyarakat yang tahu harga diri, yang ingin kebenaran, keadilan dan kemakmuran yang merata dalam kehidupan.

BERILMU tak bertentangan dengan masyarakat yang ingin maju untuk kepentingan diri dan masyarakatnya. pengabdian adalah pada Allah, manusia dan lingkungan, untuk kebahagiaan diri sekarang dan nanti.


Dikutip dari Buku Butir Butir Adat Melayu Pesisir Sumatera Timur yang disusun oleh T.H.M. Lah Husny.

UPACARA TEPUNG TAWAR

Telah menjadi adat kebiasaan, puak melayu memakai tepung tawar pada beberapa upacara dan kejadian-kejadian penting, umpamanya pada perkawinan, pertunangan, sunat rasul (khitan) ataupun jika seseorang kembali dengan selamat dari sesuatu perjalanan ataupun terlepas dari mara bahaya ataupun mendapat rahmat yang diluar dugaan.
Maka ditepung tawarilah yang berkepentingan dengan pengharapan ia akan tetap selamat dan bahagia hendaknya. Logat tepung tawar mulanya ialah TAMPUNG TAWAR, yaitu dalam kata “ditampung tangan untuk menerima penawar (obat)”

Tepung Tawar ini berasal dari zaman leluhur berpuluh abad yang lalu. Susunan tepung tawar yang biasa digunakan oleh masyarakat melayu dalam garis besarnya terdiri dari 3 bagian pokok, yaitu :
- Ramuan Penabur
- Ramuan Rinjisan
- Pedupaan (Perasapan)
Ketiga bagian di atas dirinci pula sebagai berikut :

RAMUAN PENABUR
Di atas wadah terletak sepiring beras putih, sepiring beras kuning, sepiring bertih dan sepiring tepung beras, sebagai pelambang sebagai berikut :
- Beras putih = kesuburan
- Beras Kuning = kemuliaan, kesungguhan
- Bertih = perkembangan
- Bunga Rampai = keharuman (nama)
- Tepung beras = kebersihan hati.
- Arti keseluruhan dari bahan-bahan di atas adalah kebahagiaan

RAMUAN RINJISAN
Sebuah mangkuk putih (dulu tempurung kelapa puan) berisi air biasa, segenggam beras putih dan sebuah jeruk purut yang telah di iris-iris. Di dalam mangkuk tersebut juga diletakkan sebuah ikatan daun-daunan yang terdiri dari 7 macam daun, yaitu :
- Daun Kalinjuhang (silinjuhang)
- Tangkai pohon pepulut (sipulut) dengan daun
- Daun Gandarusa atau daun sitawar
- Daun jejerun (jerun-jerun)
- Daun sepenuh
- Daun sedingin
- Pohon sembau dengan akarnya

Ketujuh daun di atas diikat dengan akar atau benang jadi satu berkas kecil sebagai rinjisan. Adapun arti dari bahan-bahan di atas adalah sebagai berikut :

Mangkuk putih berisi air = kejernihan; beras = kesuburan; irisan-irisan jeruk purut = membersihkan.
Secara keseluruhan diartikan sebagai Keselamatan dan Kebahagiaan.

Sedangkan ketujuh macam dedaunan tersebut di atas berarti :

Daun Kalinjuhang, mempunyai sifat membangkitkan semangat yang telah lesu. Daun ini dapat diartikan sama dengan “panjang umur” dan “bertenaga”

Daun Pepulu
t, sifatnya “melengket” atau “tidak lekas lekang”. Daun ini memberi arti “Kekekalan”

Daun Gandarusa
, adalah tangkal (perisai) terhadap “kecelakaan” yang mungkin dating dari alam gaib atau tenaga gaib

Pohon Jejurun, sifatnya sukar dicabut dan sukar mati, menjadi simbol “kelanjutan hidup”.

Daun sepenuh, mengingatkan kita kepada kata “penuh” yang berarti disini “penuh rezeki”

Pohon Sedingin, ialah tanda 'ketenangan' dan 'kesehatan'.

Pohon sembau, mempunyai akar sangat liat dan sukar dicabut, mengingatkan kita pada “kekuatan dan keteguhan”

Maka ke tujuh macam tumbuhan tersebut di atas adalah “seruan” dan “doa” tanpa suara untuk kesempurnaan orang yang ditepung tawari.


PERDUPAAN

Perdupaan dengan kemenyan atau setanggi yang dibakar dapat diartikan dengan pemujaan atau doa kepada Yang Maha Kuasa agar permintaan dimaksud dapat restu atau terkanul hendaknya. Perdupaan ini sangat jarang dilakukan pada upacara tepung tawar yang ada sekarang ini.

URUTAN PENEPUNG TAWARAN
Urutan yang menepung tawari adalah dimulai dari ibu bapaknya (serentak) dan kemudian diteruskan oleh ahli keluarga yang tertua dan terdekat sampai jumlah yang telah ditentukan semula dengan ketentuan mula-mula yang menepung tawari adalah kaum laki-laki, kemudian baru giliran kaum wanita. Anak beru ataupun seseorang yang ditugasi untuk itu, mendatangi dan menjemput orang yang harus menepung tawari itu serta mempersilahkan beliau sambil mengiringkannya pula dari belakang ke tempat upacara tepung tawar.
Selesai melakukan tepung tawar, beliau diantar pula ke tempat duduknya semula dan oleh anak beru atau orang yang ditugaskan untuk itu memberikan kepada beliau sebuah “bunga telor berkat”

CARA MELAKUKAN TEPUNG TAWAR
Orang yang hendak ditepung tawari mula-mula menerima ataupun mengambil sedikit (sejumput) beras putih, beras kuning, bertih danbunga rampai, llau menaburkannya ke atas haribaan atau keliling badan orang yang ditepung tawari, kadang-kadang disertai dengan ucapan ‘selamat’, “murah rezeki”’ “sehat”’ dan sebagainya.
Kemudian diambilnya berkas ikatan daun kalinjuhang dan daun lainnya, dicecahkan ke mangkuk puith yang berisi air dan beras putih serta irisan limau purut lalu dirinjis-rinjiskannya di atas kedua belah telapaktangan orang yang ditepungtawari. Selalu juga disertai dengan kata ‘selamat’. Kemudian barulah diambil sedikit tepung beras tadi dan dioleskan (dilekatkan) ke tapak tangan yang ditanuri. Semua acara di atas dilakukan dengan khidmat. Orangtua ada juga merinjis-rinjiskan berkas ikatan tersebut ke atas ubun-ubun (kepala) anaknya ataupunkeluarga termuda. Ini sebenarnya bersifat kemanja-manjaan saja , bukan kelaziman.
Jika yang ditepung tawari lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya di dalam keluarga ataupun masyarakat dari orang yang ditepung tawari, maka orang yang ditepung tawari telebih dahulu harus minta terima kasih dan memberi hormat dengan cara mengangkat kedua belah tangannya sewaktu hendak di tepung tawari. Yang menepung tawari membalas pula dengan mengangkat kedua belah tangannya juga, sebagai menerima tanda terima kasih atau penghormatan itu.
Sebaliknya yang akan terjadi, jika yang menepungtawari lebih muda, maka dialah terlebih dahulu yang harus memberi hormat.

Dikutip dari Buku Butir Butir Adat Melayu Pesisir Sumatera Timur yang disusun oleh T.H.M. Lah Husny.

Selasa, 23 September 2008

URUTAN NAMA ANAK MELAYU

Kalau di Bali terdapat urutan nama anak seperti Putu, Made. Nyoman dan Ketut, maka suku Melayu juga mempunyai urutan nama anak sebagai berikut :

Anak pertama : si Ulung (Iyung, Ulong)
Anak kedua : si Ngah
Anak ketiga : si Alang
Anak keempat : si Uteh
Anak kelima : si Andak
Anak keenam : si Uda
Anak ketujuh : si Ucu (Uncu, busu, bongsu)
Anak kedelapan : si Ulung Cik ( Ulung Kecik)
Anak kesembilan : si Ngah Cik
Anak kesepuluh : si Alang Cik
Anak kesebelas : si Uteh Cik
Anak keduabelas : si Andak Cik
Anak ketigabelas : si Uda Cik
Anak keempatbelas : si Cik (si Kecil atau si Kecik)

Panggilan untuk anak laki-laki si Kolok
Panggilan untuk anak perempuan si Subang

Dikutip dari Buku Butir Butir Adat Melayu Pesisir Sumatera Timur yang disusun oleh T.H.M. Lah Husny.